INTERNET : MEDIA PENDIDIKAN ATAU MEDIA PORNOGRAFI ?

Standard

Beberapa minggu terakhir, ditelevisi, sering kita jumpai iklan salah satu perusahaan telekomunikasi dinegeri ini, yaitu iklan mengenai sosialisasi program internet masuk kesekolah-sekolah atau sekaligus kedesa-desa apabila melihat latar dari iklan tersebut. Tujuan dari iklan tersebut sangatlah positif. Penulis melihat ada dua hal penting yang menjadi tujuan dari iklan tersebut, pertama, ingin mensosialisasikan bahwa telah ada program internet masuk kesekolah-sekolah, termasuk sekolah yang ada dipedesaan; dan kedua, merupakan tujuan yang paling penting dan utama, yaitu dengan adanya fasilitas internet disekolah, diharapkan tidak hanya menjadi sarana akses informasi keseluruh penjuru dunia, tetapi juga menjadi media belajar dan menambah wawasan serta pengembangan ilmu pengetahuan bagi para siswa, sekaligus untuk menghilangkan kesan gaptek (gagap teknologi) dimasyarakat. Untuk tujuan yang terakhir, sebenarnya kita sudah jauh tertinggal dengan negara-negara barat, seperti Amerika Serikat. Pada era Presiden Bill Clinton, pemerintahannya menghadiahkan hubungan internet kepada 2000-an sekolah menengah di California. Kebijakan ini bertujuan agar penduduk Amerika Serikat ditahun-tahun mendatang telah memiliki paling tidak fasilitas surat elektronik. Pada masa ini Amerika Serikat telah berupaya agar warganya bebas dari kebutaan terhadap internet, tetapi Indonesia sampai dengan sekarang masih pada kebijakan pemberantasan buta aksara dan baru mulai pada pengenalan internet. Namun tidak ada kata terlambat, karena yang memalukan bukanlah ketidaktahuan, tetapi ketidakmauan belajar.

Sudahkah Sosialisasi ?
Adanya program internet kesekolah-sekolah tersebut sangatlah baik, namun pertanyaannya, apakah sebelum internet tersebut masuk kesekolah-sekolah sudah ada sosialisasi terhadap guru-guru dan para siswa bagaimana penggunaannya, manfaatnya maupun dampak negatif dan cara menghindarinya ? apakah internet tersebut sudah disertai dengan perangkat filter yang memadai ? apakah sudah ada sistem pengawasan terhadap penggunaan internet tersebut ? apakah sudah ada staf khusus yang memiliki keahlian dibidang teknologi informasi yang nantinya akan mengelola laboratorium internet dan membimbing siswa-siswa ? Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut jawabannya belum, maka program internet kesekolah-sekolah ini hasilnya tidak akan maksimal, bahkan bisa menimbulkan masalah sosial baru. Salah satunya adalah internet menjadi media bagi para siswa untuk mengkonsumsi pornografi. Meskipun tidak selalu diinternet sekolah, namun awal dia mengetahuinya dari internet sekolah, kemudian akan mencarinya diluar, misalnya warnet yang tentunya sangat bebas atau dirumah sendiri dimana pengawasan orang tua sangat lemah. Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati selama tahun 2005 terhadap 1.705 anak kelas 4-6 SD di 134 SD di Jabodetabek, diketahui bahwa media yang digunakan anak-anak dalam mengenal pornografi, 20 % adalah dari situs internet. Sementara berdasarkan survei Majalah Femina di Jakarta, Depok, Tangerang dan Bogor terhadap 1.821 responden, dengan 50% lebih respondennya memiliki anak berusia di bawah 10 tahun, diketahui bahwa 80% orang tua yang menyimpan komputer di kamar anak ternyata tidak atau belum memasang software yang menyaring situs-situs bermuatan pornografi di internet.

Mudahnya Akses Pornografi & Dampak Negatifnya Bagi Anak

Minimnya sosialisasi cara penggunaan, cara menghindari dampak negatif dan kurangnya perangkat filter, mengakibatkan pornografi internet (cyberporn) semakin mudah ditemukan oleh siswa-siswa sekolah.

Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak mengakses pornografi, baik melalui internet sekolah maupun dirumah sendiri, yaitu : pertama, kurangnya pengawasan, pendidikan dan pembinaan dari guru/orang tua kepada siswa/anaknya tentang bagaimana penggunaan internet yang sehat, manfaat internet dan dampak negatif serta cara menghindarinya; kedua, sikap ketertutupan dari guru/orang tua kepada siswa/anak-anak tentang sex education, akibatnya rasa penasaran yang begitu besar dicari jawabannya di luar sekolah/rumah, seperti di warnet; ketiga, guru/Orang tua yang gagap teknologi (gaptek), sehingga memenuhi kebutuhan internet disekolah atau untuk anak di rumah/dikamar, tetapi guru/orang tua sendiri tidak menguasainya, bahkan tidak mengetahui dampak negatif internet; keempat, kurangnya upaya proteksi oleh guru/orang tua yang memiliki internet disekolah/di rumah atau di kamar anak-anak, yaitu tidak melengkapinya dengan software untuk memblokir situs-situs porno; kelima, orientasi keuntungan finansial para pemilik warnet, sehingga siapa pun bisa menyewa internet termasuk anak-anak atau remaja, bahkan pada jam-jam sekolah. Selain itu ruangan tertutup yang tersedia diwarnet menjadikan anak-anak merasa nyaman dan aman untuk membuka situs-situs porno; keenam, murahnya biaya untuk dapat mengkonsumsi bahkan memiliki foto-foto atau video porno dengan cara mendownloadnya dari sebuah situs porno dan menyimpannya pada disket, CD atau flasdisc; dan ketujuh, sikap keterbukaan masyarakat, termasuk orang tua yang sedikit demi sedikit tidak menganggap tabu hal-hal yang bersifat pornografi. Akibatnya kontrol sosial menjadi berkurang terhadap pornografi.

Disamping itu, banyaknya jumlah situs porno yang setiap hari bertambah dan adanya situs mesin pencari diinternet seperti Google, semakin mempermudah untuk mengakses cyberporn.

American Demographics Magazine dalam laporannya menyatakan bahwa jumlah situs pornografi meningkat dari 22.100 pada tahun 1997 menjadi 280.300 pada tahun 2000 atau melonjak 10 kali lebih dalam kurun waktu tiga tahun. Apabila dirata-rata, berarti setiap hari muncul 200-an lebih situs porno baru dan bisa dibayangkan berapa jumlahnya saat ini. Sementara Nathan Tabor, dalam artikelnya yang berjudul Adultary is killing the American Family mengatakan bahwa statistik menunjukkan bahwa 25 % dari semua internet, mesin pencarinya minta dihubungkan dengan pornografi.

Semakin sering siswa/anak mengkonsumsi materi-materi pornografi, tentunya dakan berdampak negatif bagi perkembangan mental dan keperibadiannya. Menurut Ike R Sugianto, seorang psikolog, mengatakan bahwa efek psikologis pornografi dari internet bagi anak sangat memicu perkembangan kelainan seksual mereka. Anak yang mengenal pornografi sejak dini akan cenderung menjadi antisosial, tidak setia, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tidak sensitif, memicu kelainan seksual, dan menimbulkan kecanduan mengakses internet terutama pada situs game dan porno.

Kelemahan Hukum

Larangan pornografi sebenarnya telah diatur dalam hukum positif kita, diantaranya adalah dalam KUHP, UU No 8/1992 tentang Perfilman, UU No 36/1999 tentang Telekomunikasi, UU No 40/1999 tentang Pers dan UU No 32/2002 tentang Penyiaran. Namun pada tahap aplikasi, beberapa UU ini tidak dapat bekerja dengan maksimal karena mengandung beberapa kelemahan dan kekurangan pada substansinya, yaitu perumusan melanggar kesusilaan yang bersifat abstrak/multitafsir, jurisdiksi yang bersifat territorial dan perumusan beberapa istilah dan pengertiannya yang tidak mencakup aktivitas pornografi diinternet, sistem perumusan sanksi pidana yang tidak tepat dan jumlah sanksi pidana denda yang relatif kecil, sistem perumusan pertanggungjawaban pidana korporasi/badan hukum yang tidak jelas dan tidak rinci, dan tidak adanya harmonisasi tindak pidana dan kebijakan formulasi tindak pidana, baik pada tingkat nasional, regional maupun internasional. Adanya kelemahan-kelemahan ini menunjukkan perlu adanya amandemen bahkan pembaharuan hukum, agar hukum dapat menjangkau penjahat-penjahat di dunia maya.

Upaya untuk memasukkan program internet kesekolah-sekolah, bahkan keseluruh masyarakat yang ada dipelosok-pelosok negeri ini merupakan langkah yang sangat baik dan perlu ditingkatkan. Namun peningkatan tersebut tentunya tidak hanya sebatas pada kuantitasnya saja, yaitu sebanyak mungkin memberikan akses internet, tetapi juga harus disertai pula dengan peningkatan kualitas dari para siswa/masyarakat yang nantinya akan menjadi user atau pengguna internet tersebut. Sehingga internet dapat menjadi media teknologi yang sehat untuk memperoleh informasi, menambah wawasan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan bukan menjadi media yang akan menimbulkan masalah sosial baru yang berdampak negatif luas bagi anak-anak dan membutuhkan tidak sedikit waktu, tenaga, pikiran dan biaya untuk memperbaikinya dimasa depan.
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Kegelisahan%20Para%20Guru%20-%20Pahlawan%20Tanpa%20Tanda%20Jasa&&nomorurut_artikel=154

Inovasi Pembelajaran Matematika

Standard
  1.   Bekerja Mundur

Strategi ini dimulai dengan siswa melihat informasi terakhir yang diberikan kemudian dari informasi itu berlanjut ke informasi sebelumnya. Demikian secara berkelanjutan sehingga dicapai yang diinginkan

Contoh penerapan:

Ade membuat layang-layang dengan panjang salah satu diagonalnya 16 cm. Hitunglah panjang diagonal yang lain jika luas layang-layang itu 192 cm.

Penyelesaian:

Diketahui             : d1= 16 cm

L = 192 cm

Ditanyakan           :  d2…..?

Jawab:

L layang-layang =

192   =

384   = 16 d2

d2  = 24

jadi panjang diagonal yang lain adalah 24 cm

2.        Membuat tabel dan gambar

Contoh penerapan:

Seorang pedagang mempunyai gudang yang hanya dapat memuat paling banyak 90 peti barang. Tiap peti barang A dibeli dengan harga Rp 20.000,00 dan akan dijual dengan laba Rp 4.000,00. Sedangkan tiap peti barang B yang dibeli dengan harga Rp 10.000,00 akan menghasilkan laba Rp 1.500,00. Jika tersedia modal Rp 1.300.000,00. Tentukan laba maksimum yang dapat diraih oleh pedagang tersebut dan berapa banyak peti barang A maupun B yang dibeli oleh pedagang.

Penyelesaian:

Table Matematika

Peti Harga (Rp) Tempat Laba (Rp)
Barang A 20.000 1 4.000
Barang B 10.000 1 1.500
Tersedia 1.300.000 90  

 

Misal: banyak peti barang A= x

banyak peti barang B = y

baca lanjutannya yuks…..

 

 

 

 

 

 

 

Ragam Bahasa

Standard
  1. PENDAHULUAN

Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, karena dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun bahasa dapat digunakan apabila saling memahami atau saling mengerti erat hubungannya dengan penggunaan sumber daya bahasa yang kita miliki. Kita dapat memahami maksud dan tujuan orang lain berbahasa/ berbicara apabila kita telah mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan orang tersebut. Untuk itu keseragaman berbahasa sangatlah penting, karena diharapkan agar komunikasi dapat berjalan lancar.

Maka daripada itu bangsa Indonesia pada tahun 1945 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan sampai sekarang pemakaian bahasa Indonesia makin meluas dan menyangkut berbagai bidang kehidupan.
Kita sebagai generasi muda, marilah kita pelihara bahasa Indonesia ini, memgingat akan arti pentingnya bahasa untuk mengarungi kehidupan masa globalisasi, yang menuntut akan kecerdasan berbahasa, berbicara, keterampilan menggunakan bahasa dan memegang teguh bahasa Indonesia, demi memajukan bangsa ini, supaya bangasa kita tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Maka dari itu disini penulis akan mencoba menguraikan tentang “Berbahasa Yang Baik Dan Benar”
Ragam bahasa termasuk kepelbagian penggunaan bahasa menurut konteks. Terdapat dua jenis ragam bahasa yaitu ragam bahasa formal dan  nonformal. Ragam bahasa baku itu merupakan ragam bahasa yang standar, bersifat formal. Tuntutan untuk menggunakan ragam bahasa seperti ini biasa ditemukan dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat formal, dalam tulisan-tulisan ilmiah (makalah, skripsi, tesis, disertasi), percakapan dengan pihak yang berstatus akademis yang lebih tinggi, dan sebagainya

 

  1. LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA

Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang berbeda-beda disesuaikandengan situasi dan kondisi. Keanekaragamaan itulah yang disebut ragam Bahasa Indonesia. Ragam bahas dibedakan dua jenis, yaitu bahas formal dan bahas tidak formal.

Ragam bahasa menurut hubungan pelaku dalam pembicaraan atau gaya penuturan menunjuk pada situasi formal dan informal. Medium pembicaraan atau cara pengungkapan dapat berupa saran atau cara pemakaian bahasa, misalnya bahas lisan dan bahas tulis.

Sebuah komunikasi dikatakan efektif apabila setiap penutur menguasai perbedaan ragam bahasa. Kridalaksana ( 1984: 165 ) mengemukakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya yang dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan medium pembicaraan. Jadi, ragam bahasa adalah variasi bahas menurut pemakaiaanya, ya  ng timbl menurut situasi dan fungsi yang memungkinkan adanya variasi tersebut. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang biasa digunakan dikalangan terdidik, di dalam karya ilmiah disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.

 

Baca lagi yuks…….

Penelitian dan Pengembangan

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

            Penelitian pendidikan dan pengembangan yang lebih dikenal dengan istilah research and development (R & D). Strategi untuk mengembangkan sebuah produk pendidikan oleh Borg&Gall (1983) disebut sebagai penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan kadang pula sering disebut juga suatu pengembangan berbasis pada penelitian atau disebut juga suatu Research-based development. Dalam dunia pendidikan, penelitian dan pengembangan hadir belakangan dan merupakan jenis penelitian yang relatif baru

            Pengertian penelitian dan pengembangan menurut Borg & Gall (1983) adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Penelitian ini mengikuti suatu langkah-langkah secara siklus. Langkah-langkah penelitian atau proses pengembangan ini terdiri atas kajian tentang temuan penelitian produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan-temuan tersebut, melakukan uji coba lapangan sesuai dengan latar belakang dimana produk itu akan dipakai, dan melakukan revisi terhadap hasil uji lapangan. Penelitian dan pengembangan pendidikan itu sendiri dilakukan berdasarkan suatu model pengembangan berbasis industry, yang temuan-temuannya dipakai untuk mendesain produk dan prosedur yang kemudian secara sistematis dilakukan uji lapangan, dievaluasi, disempurnakan untuk memenuhi criteria keefektifan, kualitas, dan standar tertentu(Gall & Borg, 2003).

Penelitian pengembangan menurut (Seels & Richey, 1994), didefinisikan sebagai berikut : “ Penelitian pengembangan sebagaimana dibedakan dengan pengembangan pembelajaran yang sederhana, didefinisikan sebagai kajian secara sistematik untuk merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi program-program, proses dan hasil-hasil pembelajaran yang harus memenuhi kriteria konsistensi dan keefektifan secara internal.”

Lebih jauh menurut Seels dan Richey,dalam bentuk yang paling sederhana penelitian dan pengembangan ini dapat berupa : (1) kajian tentang proses dan dampak rancangan pengembangan dan upaya-upaya pengembangan tertentu atau khusus atau berupa (2) suatu situasi dimana seseorang melakukan atau melaksanakan rancangan, pengembangan pembelajaran, atau kegiatankegiatan evaluasi dan mengkaji proses pada saat yang sama atau berupa (3) kajian tentang rancangan, pengembangan, dan proses evaluasi pembelajaran baik yang melibatkan komponen atau proses secara menyeluruh atau tertentu saja.

Namun pada hakikatnya, suatu penelitian dan pengembangan dilakukan untuk menjembatani atau memutus kesenjangan antara penelitian dasar dan terapan. Terkadang seorang peneliti melakukan sebuah penelitian dengan pendekatan penelitian “tradisional”( misalnya penelitian survey, korelasi, eksperimen) dengan focus penelitian hanya mendeskripsikan tentang pengetahuan, jarang memberikan deskripsi yang berguna bagi pemecahan masalah rancangan dan desain dalam pembelajaran atau pendidikan.

Untuk itu, penulis mencoba untuk mengulas kembali bagaimana suatu penelitian dan bagaimana pengembangannya dalam dunia pendidikan. Dari sini, penulis akan mencoba mengkaji tentang penelitian dan pengembangan dalam dunia pendidikan khususnya. Diharapkan dari pengkajian penelitian dan pengembangan akan memberikan kontribusi dalam upaya pencapaian tujuan penelitian dan pengembangan bagi seorang peneliti, yaitu untuk mendapatkan suatu reformasi atau perubahan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.

Baca lanjutannya yuks……

Hubungan Agama dan Kebudayaan

Standard

A.  Hubungan Agama dan Budaya

1.   Pengertian Agama   

Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Jadi fungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau. Karena itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda berfungsi memelihara integritas dari seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketidak kacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas,nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang, dimaknai dan diberlakukan.

Pengertian itu jugalah yang terdapat dalam kata religion (bahasa Inggris) yang berasal dari kata religio (bahasa Latin), yang berakar pada kata religare yang berarti mengikat. Dalam pengertian religio termuat peraturan tentang kebaktian bagaimana manusia mengutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi (vertikal) dalam penyembahan dan hubungannya secara horizontal (Sumardi, 1985:71)

Islam juga mengadopsi kata agama, sebagai terjemahan dari kata Al-Din seperti yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an surat 3 : 19 ( Zainul Arifin Abbas, 1984 : 4). Agama Islam disebut Din dan Al-Din, sebagai lembaga Ilahi untuk memimpin manusia untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Secara fenomenologis, agama Islam dapat dipandang sebagai Corpus syari’at yang diwajibkan oleh Tuhan yang harus dipatuhinya, karena melalui syari’at itu hubungan manusia dengan Allah menjadi utuh. Cara pandang ini membuat agama berkonotasi kata benda sebab agama dipandang sebagai himpunan doktrin.

Komaruddin Hidayat seperti yang dikutip oleh muhammad Wahyuni Nifis (Andito ed, 1998:47) lebih memandang agama sebagai kata kerja, yaitu sebagai sikap keberagamaan atau kesolehan hidup berdasarkan nilai-nilai ke Tuhanan.

Walaupun kedua pandangan itu berbeda sebab ada yang memandang agama sebagai kata benda dan sebagai kata kerja, tapi keduanya sama-sama memandang sebagai suatu sistem keyakinan untuk mendapatkan keselamatan disini dan diseberang sana.

Baca lengkapnya yuks….

PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH DI DAERAH KABUPATEN BATANG

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Gema dakwah Muhammadiyah pertama kali dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan di Kauman Yogyakarta, kini terus menyebar ke seluruh Nusantara yang akhirnya sampai ke Kabupaten Batang pada tahun 1926 dan 1927 di Mplangi Kecamatan Tersono dan Krangko’an Kecamatan Limpung. Kemudian di Batang kota tahun 1935, semua baru tahap perintisan awal, kemudian disusul perintisan ke dua yaitu berdirinya cabang Muhammadiyah. Cabang Muhammadiyah pertama berdiri di Kecamatan Tersono tahun 1961, kemudian di Kecamatan Batang tahun 1962 dan Kecamatan Limpung tahun 1964 (semuanya menginduk pada PDM Pekalongan). Dari ketiga cabang tersebut akhirnya pada tahun 1968 PDM Batang berdiri. Setelah PDM berdiri, cabang yang tadinya menginduk pada PDM Pekalongan kembali ke PDM Batang.

Berdirinya PDM Batang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang antara lain, pengaruh dari luar daerah, motivasi keagamaan pribadi, sosio agama masyarakat, kehampaan yang dialami oleh para pendatang, realitas politik umat Islam, melihat ajaran dan program Muhammadiyah. PDM Batang, sampai dengan tahun 2009 memiliki 14 pimpinan cabang yang intensitas perkembangannya berbeda-beda, ada yang perkembangannya cukup baik terjadi di PCM Tersono, Batang, Limpung dan Bawang.

Perbedaan perkembangan yang terjadi di masing-masing cabang antara lain dipengaruhi oleh pembawa faham Muhammadiyah (asli dan pendatang), sosio ekonomi warga Muhammadiyah, jumlah warga Muhammadiyah, sosio agama masyarakat, jumlah kader dan mubaligh.

B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini , yaitu:

  1. Apakah sebetulnya Muhammadiyah dan tujuan Muhammadiyah didirikan?
  2. Bagaimana struktur Muhammadiyah di tingkat Daerah Kabupaten Batang?
  3. Bagaimana program kerja dan pelaksanaan Program Kerja Muhammadiyah Daerah Kabupaten Batang?

C.    TUJUAN PENULISAN

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Memenuhi tugas mata kuliah Kemuhammadiyahan yang diampu oleh Bapak Djumali.
  2. Untuk mengetahui latar belakang dan tujuan berdirinya Muhammadiyah Daerah Kabupaten Batang.
  3. Untuk mengetahui struktur Muhammadiyah di tingkat Daerah Kabupaten Batang.
  4. Untuk mengetahui program kerja dan pelaksanaan Program Kerja Muhammadiyah Daerah Kabupaten Batang.

D.    MANFAAT PENULISAN

    1. Untuk menambah wawasan masyarakat tentang organisasi Muhammadiyah di Kabupaten Batang.
    2. Untuk mengetahui perkembangan Muhammadiyah di Kabupaten Batang.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 A.    LATAR BELAKANG DAN TUJUAN MUHAMMADIYAH DIDIRIKAN

Muhammadiyah adalah organisasi Islam tertua dan terbesar di Indonesia, atau paling kuat di Asia Tenggara bahkan mungkin di dunia, yang sampai hari ini masih berdiri kokoh.

Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan di Indonesia, mulai berakar pada permulaan abad 20. Pembaharuan Islam di Indonesia tidak lepas dari pengaruh pembaharuan yang terjadi di Timur Tengah dan Mesir, terutama pemikiran-pemikiran para tokoh, seperti: Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho.

Berdirinya sebuah organisasi keagamaan tentu tidak terlepas dari latar belakang sejarah kehidupan pendiri. Sebab organisasi keagamaan yang tumbuh secara khusus dan melembaga, tentu berangkat dari pengalaman atau hasil sebuah refleksi keagamaan sang pendiri.

Berkait dengan faktor yang melatarbelakangi berdirinya Muhammadiyah di Indonesia, dalam tesis masternya Saifullah, menyebut 4 faktor yang melatarbelakanginya yaitu:

  1. Aspirasi Kyai Ahmad Dahlan
  2. Realitas Sosio-Agama di Indonesia
  3. Realitas Sosio-Pendidikan di Indonesia
  4. Realitas Politik Islam Hindia-Belanda

baca lanjutannya yuks….

LATAR BELAKANG MUHAMMADIYAH DIDIRIKAN

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini lahir sebagai perwujudan keprihatinan karena melihat kenyataan umat Islam di Indonesia dalam cara menjalankan perintah-perintah agama Islam banyak yang tidak bersumber dari ajaran Al Quran dan tuntunan Rasulullah SAW. Dalam hal  itu KH Ahmad Dahlan menghendaki agar dengan Muhammadiyah, orang-orang Islam mengamalkan dan menggerakkan Islam dengan berorganisasi.

Pembahasan mengenai sejarah berdirinya Muhammadiyah tidak bisa terlepas dari situasi dan kondisi bangsa Indonesia. Latar belakang berdirinya Muhammadiyah juga tidak bisa dilepaskan dari aspek sosial-agama di Indonesia, sosio-pendidikan di Indonesia dan realitas politik Islam hindia Belanda. Oleh karena itu berdirinya Muhammadiyah berhubungsan erat dengan empat masalah pokok,yaitu: Pemikiran Islam Ahmad Dahlan, Realitas sosio-religius di Indonesia,dan Realitas sosio-pendidikan dan Realitas politik Islam hindia-Belanda.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:

1.Bagaimana pemikiran KH Ahmad Dahlan tentang keadaan Islam saat itu dan apa saja yang dilakukannya?

2.Bagaimana relitas sosial agama dan pendidikan masyarakat Indonesia yang terjadi saat itu?

3.Apa saja kebijakan politik hindia-Belanda untuk mencegah terjadinya perlawanan yang dilakukan umat muslim Indonesia?

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan “Makalah Latar Belakang Muhammadiyah Didirikan” ini adalah untuk mengungkapkan fakta yang sedang terjadi di masyarakat pada zaman dahulu sebelum didirikan muhammadiyah dan memberikan suatu solusi untuk memecahkan masalah dengan didirikannya muhammadiyah.

D. MANFAAT HASIL PENULISAN

Hasil penulisan ini akan bermanfaat bagi para pembaca khusunya warga umat Islam muhammadiyah untuk lebih mengetahui latar belakang didirikannya Muhammadiyah dengan segala perjuangan Ahmad Dahlan pada saat itu dan mengetahui realita yang terjadi di masyrakat Indonesia dalam aspek sosial,keagamaan,pendidikan,dan politik bangsa dan menemukan solusi pemecahannya.


BAB II

PEMBAHASAN

A. INTELEKTUALITAS DAN RELIGIOSITAS KH.AHMAD DAHLAN

Faktor yang melatarbelakangi muhammadiyah didirikan :

Faktor subyektif (ahmad dahlan)

M.Jindar Tamimi

Faktor obyektif (kondisi internal dan eksternal bangsa)

Faktor aspirasi pendiri (ahmad dahlan)

Saifullah                                       Faktor  realitas sosio-agama di indonesia

Faktor sosio-pendidikan di Indonesia

Faktor realitas politik islam hindia-belanda

Aspirasi Ahmad Dahlan mendirikan muhammadiyah dapat dilihat dari perjalanan intelektual, spiritual, dan sosialnya terdiri dari dua fase biografi :

a) fase pertama, setelah menunaikan ibadah haji pertama (1889)

v  berusia 20 tahun

v  didorong oleh upaya peningkatan spiritual pribadi dengan cara menunaikan rukun islam kelima,yaitu ibadah haji

v  aktivitas keagamaan :

– pembenahan arah  kiblat (1897)

– masalah pemberian garis shaf untuk shalat (1897)

– renovasi pembangunan mushala Ahmad Dahlan

– perluasan pembangunan dan pengembangan pesantren milik ayahnya

b) fase kedua, setelah menunaikan ibadah haji kedua (1903)

v  berusia 34 tahun

v  menunaikan rukun islam kelima,yaitu ibadah haji disamping itu untuk memperdalam islam lebih dalam lagi, baik kepada ulama menjadi syaikh disana, misalnya :

# untuk fikih : K.H Mahful, K.H Muhtaram, Syaikh Bafadhal, Syaikh Sa’id Yamani dan Syaikh Said Babasel

# untuk hadis : Mufti Syafi’i

# untuk ilmu astronomi : K.H Asy’ari Bawean

# untuk ilmu qira’ah : Syaikh Ali Mukri

v  membaca karya-karya tokoh pembaharu islam kontemporer dari timur tengah

v  aktivitas keagamaannya mewujudkan  obsesinya tentang  masa depan islam Indonesia yaitu perlunya rekonstruksi menyeluruh atas masyarakat muslim indonesia, mulai etos kerja, keilmuan sampai metodologi pemahaman islam yang efektif yang menuju pemikiran pembaharuan islam yang diperolehnya pasca melaksanaan haji yang kedua

v  rekonstruksi yang dimaksudkan metodologi pemahaman yang rasional-fungsional.Rasional adalah menelaah sumber utama ajaran islam dengan kebebasan akal pikiran dan kejernihan akal nurani.Fungsional adalah keharusan merumuskan pemahaman ke dalam bentuk aksi sosial.


B. REALITAS SOSIAL-AGAMA DI INDONESIA

Islam sebagai agama di Indonesia tidak mampu membawa dan mendorong umat Islam Indonesia menjadi masyarakat yang dinamis,maju,dan modern.

Kondisi masyarakat yang masih sangat kental dengan kebudayaan Hindu dan Budha, memunculkan kepercayaan dan praktik Ibadah yang menyimpang dari Islam. Kepercayaan dan praktik ibadah tersebut dikenal dengan sitilah Bid’ah dan Khurafat. Khurafat adalah kepercayaan tanpa pedoman yang sah menurut Alquran dan al hadits, hanya ikut-ikutan orang tua atau nenek moyang mereka. Sedangkan bid’ah adalah bentuk ibadah yang dilakukan tanpa dasar pedoman yang jelas, melainkan hanya ikut-ikutan orangtua atau nenek moyang saja.
Melihat realitas sosio-agama ini mendorong Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah . Namun, gerakan pemurniannya dalam arti pemurnian ajaran Islam dari bid’ah dan khurafat baru dilakukan pada tahun 1916.Dalam konteks sosio-agama ini, Muhammadiyah merupakan gerakan pemurnian yang menginginkan pembersihan Islam dari semua sinkretisme dan praktik ibadah yang terlebih tanpa dasar akaran Islam (Takhayul, Bid’ah, Khurafat).

C. REALITAS SOSIO-PENDIDIKAN DI INDONESIA

Ahmad Dahlan mengetahui bahwa pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua yaitu pendidikan pesantren yang hanya mengajarkan ajaran-ajaran agama dan pendidikan Barat yang sekuler. Kondisi ini menjadi jurang pemisah antara golongan yang mendapat pendidikan agama dengan golongan yang mendapatkan pendidikan sekuler.

Kesenjangan ini termanifestasi dalam bentuk berbusana, berbicara, hidup dan berpikir. Ahmad Dahlan mengkaji secara mendalam dua sistem pendidikan yang sangat kontras ini.Dualisme sistem pendidikan diatas membuat prihatin Ahmad Dahlan, oleh karena itu cita-cita pendidikan Ahmad Dahlan ialah melahirkan manusia yang berpandangan luas dan memiliki pengetahuan umum, sekaligus yang bersedia untuk kemajuan masyarakatnya. Cita-cita ini dilakukan dengan mendirikan lembaga pendidikan dengan kurikulum yang menggabungkan antara Imtak dan Iptek.

D. REALITAS POLITIK ISLAM HINDIA BELANDA

Hindia-Belanda (Bahasa Belanda: Nederlands-Indië) adalah sebuah wilayah koloni Belanda yang diakui secara hukum de jure dan de facto. Kepala negara Hindia-Belanda adalah Ratu/Raja Belanda dengan perwakilannya yang berkuasa penuh seorang Gubernur-Jendral.

Hindia-Belanda juga merupakan wilayah yang tertulis dalam UU Kerajaan Belanda tahun 1814 sebagai wilayah berdaulat Kerajaan Belanda, diamandemen tahun 1848, 1872, dan 1922 menurut perkembangan wilayah Hindia-Belanda.

Hindia-Belanda dahulu kala adalah sebuah jajahan Belanda, sekarang disebut Indonesia.

Perlawanan penduduk Indonesia terhadap kolonial tidak lepas dari ajaran islam yang sering tampil sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah asing yang dinilai kafir. Pemerintah kolonial Belanda melihat bahwa keberhasilan menguasai islam merupakan faktor kunci keberhasilan untuk tetap eksis sebagai penjajah.

Politik Islam hindia Belanda terbagi menjadi dua periode,yaitu:

Periode Pertama (periode sebelum Snouck Hurgronje)

–          Belanda berprinsip agar penduduk Indonesia yang beragama Islam tidak memberontak.

–          Menerapkan dua strategi yaitu membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya membendung dan melakukan kristenisasi bagi penduduk Indonesia.

–          Dalam  pelarangan  pengalaman ajaran  islam, Belanda  membatasi masalah ibadah haji dengan berbagai aturan tetapi pelarangan ini justru kontraproduktif  bagi  Belanda karena menjadi sumber  pemicu perlawanan terhadap Belanda sebagai penjajah karena menghalangi kesempurnaan islam seseorang.

Periode Kedua (periode setelah Snouck Hurgronje menjadi penasihat Belanda untuk urusan pribumi di Indonesia)

–          Dalam hal ini,tidak semua kegiatan pengamalan Islam dihalangi bahkan dalam hal tertentu didukung. Kebijakan didasarkan atas pengalaman Snouck berkunjung ke Makkah dengan menyamar sebagai seorang muslim bernama Abdul Ghaffar.

–          Kebijakan Snouck didasarkan tiga prinsip utama,yaitu: Pertama rakyat indonesia dibebaskan dalam menjalankan semua masalah ritual keagamaan seperti ibadah, Kedua pemerintah berupaya mempertahankan dan menghormati keberadaan lembaga-lembaga sosial atau aspek mu’amalah dalam islam, Ketiga pemerintah tidak menoleransi kegiatan apapun yang dilakukan kaum muslimin yang dapat menyebarkan seruan-seruan Pan-Islamisme atau menyebabkan perlawanan politik atau bersenjata menentang pemerintah kolonial Belanda.

 

BAB III

PENUTUP

A.KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.Ada dua faktor yang melatarbelakangi berdirinya Muhammadiyah yaitu faktor intern (dalam pribadi Ahmad Dahlan sendiri) dan ekstern (aspek sosial,keagamaan,pendidikan,dan politik bangsa).

2.Dalam Realitas sosial-agama,cara menjalankan perintah-perintah agama Islam banyak yang tidak bersumber dari ajaran Al Quran dan tuntunan Rasulullah SAW dan juga banyak terjadi penetrasi atas misi kristen.

3.Dalam Realitas sosio-pendidikan, pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua yaitu pendidikan pesantren yang hanya mengajarkan ajaran-ajaran agama dan pendidikan Barat yang sekuler.

4.Dalam Realitas politik hindia-Belanda, Politik Islam hindia Belanda terbagi menjadi dua periode,yaitu: Periode Pertama (periode sebelum Snouck Hurgronje) dan Periode Kedua (periode setelah Snouck Hurgronje menjadi penasihat Belanda untuk urusan pribumi di Indonesia).

B. SARAN

Dari kesimpulan di atas,dapat disarankan hal-hal sebagai berikut :

1.Sebagai warga umat Islam Muhammadiyah, kita harus mempertahankan dan meneruskan perjuangan Ahmad Dahlan dari segala bentuk yang dapat menghancurkan agama Islam.

2.Sebagai umat Islam yang beriman dan bertaqwa pada-Nya, kita tidak seharusnya melakukan hal-hal yang dilarang Islam seperti bid’ah,khurafat, kita harus menjalankan dan mengamalkan seperti apa yang diajarkan dalam al quran dan al hadist.

3.Sebagai umat Islam yang berilmu, kita harus memperdalam ilmu dalam segala bidang seperti IPTEK dan ilmu yang lainnya tanpa membedakan, dengan syarat kita tahu apa yang kita pelajari sesuai dengan ajaran Islam.

4.Untuk menjaga agama Islam dari pemusnahan orang-orang kafir, kita sebagai umat Islam harus bersatu melindungi agama Islam.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Shobron,Sudarno.Drs,M.Ag.2008.Studi Kemuhammadiyahan Edisi Revisi Agustus 2008.Surakarta:LPID UMS

http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia-Belanda

http://taufiqnugroho.blogspot.com/2009/02/peran-dan-kiprah-muhammadiyah-dalam.html

http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=935&Itemid=9